Kali ini
saya mau berbagi cerita dan pengalaman ketika saya melakukan studi lapangan di
Perusahaan Daerah Air Minum kota Banda Aceh. Banyak pengetahuan yang saya
dapatkan dari kunjungan ini. Saya bisa membandingkan langsung teori pengolahan
air bersih yang telah saya pelajari dengan praktek pengolahan air bersih. Studi
lapangan ini dilakukan pada tanggal 2 April 2011 di PDAM kota Banda Aceh yang
berlokasi di Lambaro. Dimana PDAM ini merupakan tempat satu-satunya pengelolaan
dan pendistribusian air bersih di kota Banda Aceh. Banyak aspek yang saya amati
terhadap studi lapangan saya kali ini. Disini saya mengetahui beberapa hal
mengenai sistem operasional didalam lingkungan PDAM itu sendiri. Mulai dari
sarana sampai pengujian kualitas air di laboratorium.
Secara umum
sistem pengolahan air PDAM di lambaro ini sudah cukup baik, bapak Murdani
selaku pimpinan pengelolaan PDAM Banda Aceh mengatakan bahwa PDAM kota Banda
aceh ini merupakan PDAM dengan pengolahan tercanggih di Indonesia. Beliau
mengatakan demikian karena memang teknologi pengolahan yang terdapat di
lingkungn PDAM ini canggih. Hal ini dikarenakan bantuan teknologi pengolahan
air dari negara SWISS terhadap aceh pasca Tsunami. Didalam penggunaan teknolgi
ini PDAM menggunakan Power Supply dari PLN dan tenaga Genset Duetz dan Onan
sebagai cadangan apabila listrik dari PLN padam.
PDAM kota
Banda aceh ini memiliki beberapa fasilitas pengolahan air, diantaranya bangunan
intake, menara air, clarifier, pulsator, grup filter, dan reservoir. Sebagai
bahan koagulannya PDAM menggunakan bahan kimia berupa aluminum sulfat dan
kaporit. Untuk pengharapan hasil akhir diadakan uji laboratorium terhadap air
yang telah diolah agar memenuhi standar kesehatan air besih dan air minum.
Sungai
krueng aceh menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bagi PDAM. Tingkat kekuruhan rata-rata air krueng
Aceh yaitu 50 NTU. Air baku dari krueng Aceh akan disedot melalui sistim pipa
kemudian air tersebut akan dimasukan kedalam Intake( bak penampung )
dimana intake berfungsi untuk menangkap
air dari sumber air untuk diolah dalam instalasi pengolahan air bersih. Intake
memiliki lima buah pintu air kecil dan
dua pintu air besar yang terletak dibawah tanah. Air yang berada didalam intake
akan di pompa menuju ke menara air yang memiliki elavasi yang cukup tinggi
dengan menggunakan pintu air tersebut. Didalam menara air baku terjadi
pengontrolan air dan pengaturan laju alir dan tinggi permukaan air baku supaya
tetap konstan sehingga proses pengolahan ( penambahan bahan kimia, koagulasi,
pengendapan dan penyaringan) dapat berjalan dengan baik.
Alumunium
sulfat dan kaporit merupakan bahan koagulan yang banyak dipakai untuk
pengolahan air karena harganya murah, flok yang dihasilkan stabil serta
pengerjaannya mudah. Kadar khlor maksimum yang diinjeksikan 1 mg/L. Didalam
pengolahan ini tidak dibutukan kaustik, dikarenakan keaadaan PH air sungai
sudah standar. Didalam menara air ini terjadi pengadukan cepat. Setelah
mengalami pengadukan cepat di menara air, air akan dipompa menuju Clarifier, PDAM
memiliki dua buah bak Clarifier, dimana
pada bak ini akan terbentuk flok-flok sebagai akibat dari pencampuran bahan
koagulan pada tahap sebelumnya.
Flok-flok ini akan dipisahkan dengan menggunakan lamlar yang berupa
semacam saringan yang terdapat pada dasar bak Clarifier. Tujuan dari pemisahan
ini agar air yang diperoleh pada tahap ini bisa berupa air bersih tanpa adanya
kotoran(gumpalan kecil) yang dapat mengganggu pada pengolahan tahap berikutnya. Di ujung alur pengaliran Clarifier akan diberikan lagi
bahan koagulan berupa aluminium sulfat dan kaporit. Pada Clarifier ini juga
terjadi pengadukan cepat. Bahan koagulan yang diaduk secara cepat akan dipompa
menuju pulsator dengan bantuan bak ruang hampa yang terdapat pada tiap-tiap
pulsator.
Ada empat bak pulsator yang dimiliki
PDAM . Air dari clarifier berupa campuran koagulan dan air tersebut akan masuk
ke pulsator dan mengalami pengadukan lambat dimana diharapkan pencampuran
koagulan dapat homogen. Pada pulsator juga terjadi proses pembuangan lumpur
secara langsung baik otomatis maupun manual, dimana lumpur hasil pengendapan
dari pulsator akan di kuras setiap lima belas menit sekali. Air dari enam pulsator yang dimiliki akan diteruskan
menuju bak filter( penyaringan) yang
berjumlah tiga belas unit. Dimana air pada tiap permukaan filter ini diharapkan
telah mencapai tingkat kekeruhannya 1 NTU.
Bangunan filter ini terdiri dari
beberapa lapisan, lapisan teratas berupa pasir halus yang memiliki kedalaman
delapan puluh cm( 80 cm), diharapkan dengan kedalaman demikian tidak ada lagi
kotoran sekecil apapun yang dapat masuk kedalam air hasil penyaringan tersebut.
Kemudian terdapat juga pasir kasar, batu-batuan. Ketebalan tersebut sudah
mempertimbangkan hilangnya pasir akibat pembersihan yang dilakukan pada masa
pemiliharaan. Pada bangunan filter air ini terdapat sensor yang dikontrol oleh
PLC( programe limit control ) yang mana sensor ini berfungsi untuk mengontrol
ketinggian dari muka air pada bangunan filter, sehingga kita dapat menghindari
terjadi limpasan air. Proses penambahan pasir pada bangunan filter dilakukan
apabila ketinggian pasir pada bangunan tersebut dibawah delapan puluh cm
(80cm), biasa hal itu terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama yakni sepuluh
tahun sekali. Kemudian bila pemukaan air pada bangunan filter ini telah
terkontaminasi dengan kotoran diudara maupun hasil dari endapan penyaringan,
maka pihak oparator akan melakukan back
wash dimana bangunan filter akan dibersihkan dengan pemompaan udara dari
bawah bangunan yang dilakukan selama 12-16 jam. Pemompaan dengan sistem udara
dari bawah ini bertujuan agar kotoran yang menempel pada pasir dapat terangkut
sehingga pasir mudah untuk pembersihan( pencucian). Air yang telah mengalami
penyaringan ini akan masuk kedalam reservoir yang terletak tepat dibawah bak
penyaringan ini dan akan diberikan kaporit tahap akhir.
Air hasil pengolahan tersebut akan
diuji telebih dahulu kadar kelayakannya sebagai air bersih sesuai dengan kadar
yang telah ditetapkan oleh Mentri Kesehatan Indonesia dan membandingkan dengan
kadar yang terbaca oleh alat teknologi yang PDAM miliki. Dari hasil yang
didapat, perbandingan antara hasil uji lab dengan yang terbaca pada alat
sangatlah tipis berkisar 1-2 %, jadi tidak terlalu berpengaruh hasil apa yang
akan diambil nantinya dalam penetuan kadar air yang dihasilkan. Pengujian
kandungan kadar air ini dilakukan setiap hari selama 24 jam, pengecekan
dilakukan pada tiap jamnya. Setelah pengujian dilakukan dan mendapatkan kadar
air yang sesuai yang diinginkan baru PDAM
akan mendistribusikan melalui sistim pemipaan ke jaringan pipa kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar