Kamis, 29 Maret 2012

study...


Kali ini saya mau berbagi cerita dan pengalaman ketika saya melakukan studi lapangan di Perusahaan Daerah Air Minum kota Banda Aceh. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan dari kunjungan ini. Saya bisa membandingkan langsung teori pengolahan air bersih yang telah saya pelajari dengan praktek pengolahan air bersih. Studi lapangan ini dilakukan pada tanggal 2 April 2011 di PDAM kota Banda Aceh yang berlokasi di Lambaro. Dimana PDAM ini merupakan tempat satu-satunya pengelolaan dan pendistribusian air bersih di kota Banda Aceh. Banyak aspek yang saya amati terhadap studi lapangan saya kali ini. Disini saya mengetahui beberapa hal mengenai sistem operasional didalam lingkungan PDAM itu sendiri. Mulai dari sarana sampai pengujian kualitas air di laboratorium.

Secara umum sistem pengolahan air PDAM di lambaro ini sudah cukup baik, bapak Murdani selaku pimpinan pengelolaan PDAM Banda Aceh mengatakan bahwa PDAM kota Banda aceh ini merupakan PDAM dengan pengolahan tercanggih di Indonesia. Beliau mengatakan demikian karena memang teknologi pengolahan yang terdapat di lingkungn PDAM ini canggih. Hal ini dikarenakan bantuan teknologi pengolahan air dari negara SWISS terhadap aceh pasca Tsunami. Didalam penggunaan teknolgi ini PDAM menggunakan Power Supply dari PLN dan tenaga Genset Duetz dan Onan sebagai cadangan apabila listrik dari PLN padam.

PDAM kota Banda aceh ini memiliki beberapa fasilitas pengolahan air, diantaranya bangunan intake, menara air, clarifier, pulsator, grup filter, dan reservoir. Sebagai bahan koagulannya PDAM menggunakan bahan kimia berupa aluminum sulfat dan kaporit. Untuk pengharapan hasil akhir diadakan uji laboratorium terhadap air yang telah diolah agar memenuhi standar kesehatan air besih dan air minum.

Sungai krueng aceh menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bagi  PDAM. Tingkat kekuruhan rata-rata air krueng Aceh yaitu 50 NTU. Air baku dari krueng Aceh akan disedot melalui sistim pipa kemudian air tersebut akan dimasukan kedalam Intake( bak penampung ) dimana  intake berfungsi untuk menangkap air dari sumber air untuk diolah dalam instalasi pengolahan air bersih. Intake memiliki lima buah pintu air  kecil dan dua pintu air besar yang terletak dibawah tanah. Air yang berada didalam intake akan di pompa menuju ke menara air yang memiliki elavasi yang cukup tinggi dengan menggunakan pintu air tersebut. Didalam menara air baku terjadi pengontrolan air dan pengaturan laju alir dan tinggi permukaan air baku supaya tetap konstan sehingga proses pengolahan ( penambahan bahan kimia, koagulasi, pengendapan dan penyaringan) dapat berjalan dengan baik.

Alumunium sulfat dan kaporit merupakan bahan koagulan yang banyak dipakai untuk pengolahan air karena harganya murah, flok yang dihasilkan stabil serta pengerjaannya mudah. Kadar khlor maksimum yang diinjeksikan 1 mg/L. Didalam pengolahan ini tidak dibutukan kaustik, dikarenakan keaadaan PH air sungai sudah standar. Didalam menara air ini terjadi pengadukan cepat. Setelah mengalami pengadukan cepat di menara air, air akan dipompa menuju Clarifier, PDAM memiliki dua buah bak Clarifier,  dimana pada bak ini akan terbentuk flok-flok sebagai akibat dari pencampuran bahan koagulan pada tahap sebelumnya.  Flok-flok ini akan dipisahkan dengan menggunakan lamlar yang berupa semacam saringan yang terdapat pada dasar bak Clarifier. Tujuan dari pemisahan ini agar air yang diperoleh pada tahap ini bisa berupa air bersih tanpa adanya kotoran(gumpalan kecil) yang dapat mengganggu pada pengolahan tahap berikutnya. Di ujung alur pengaliran Clarifier akan diberikan lagi bahan koagulan berupa aluminium sulfat dan kaporit. Pada Clarifier ini juga terjadi pengadukan cepat. Bahan koagulan yang diaduk secara cepat akan dipompa menuju pulsator dengan bantuan bak ruang hampa yang terdapat pada tiap-tiap pulsator.

Ada empat bak pulsator yang dimiliki PDAM . Air dari clarifier berupa campuran koagulan dan air tersebut akan masuk ke pulsator dan mengalami pengadukan lambat dimana diharapkan pencampuran koagulan dapat homogen. Pada pulsator juga terjadi proses pembuangan lumpur secara langsung baik otomatis maupun manual, dimana lumpur hasil pengendapan dari pulsator akan di kuras setiap lima belas menit sekali. Air dari  enam pulsator yang dimiliki akan diteruskan menuju  bak filter( penyaringan) yang berjumlah tiga belas unit. Dimana air pada tiap permukaan filter ini diharapkan telah mencapai tingkat kekeruhannya 1 NTU.

Bangunan filter ini terdiri dari beberapa lapisan, lapisan teratas berupa pasir halus yang memiliki kedalaman delapan puluh cm( 80 cm), diharapkan dengan kedalaman demikian tidak ada lagi kotoran sekecil apapun yang dapat masuk kedalam air hasil penyaringan tersebut. Kemudian terdapat juga pasir kasar, batu-batuan. Ketebalan tersebut sudah mempertimbangkan hilangnya pasir akibat pembersihan yang dilakukan pada masa pemiliharaan. Pada bangunan filter air ini terdapat sensor yang dikontrol oleh PLC( programe limit control ) yang mana sensor ini berfungsi untuk mengontrol ketinggian dari muka air pada bangunan filter, sehingga kita dapat menghindari terjadi limpasan air. Proses penambahan pasir pada bangunan filter dilakukan apabila ketinggian pasir pada bangunan tersebut dibawah delapan puluh cm (80cm), biasa hal itu terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama yakni sepuluh tahun sekali. Kemudian bila pemukaan air pada bangunan filter ini telah terkontaminasi dengan kotoran diudara maupun hasil dari endapan penyaringan, maka pihak oparator akan melakukan back wash dimana bangunan filter akan dibersihkan dengan pemompaan udara dari bawah bangunan yang dilakukan selama 12-16 jam. Pemompaan dengan sistem udara dari bawah ini bertujuan agar kotoran yang menempel pada pasir dapat terangkut sehingga pasir mudah untuk pembersihan( pencucian). Air yang telah mengalami penyaringan ini akan masuk kedalam reservoir yang terletak tepat dibawah bak penyaringan ini dan akan diberikan kaporit tahap akhir.

Air hasil pengolahan tersebut akan diuji telebih dahulu kadar kelayakannya sebagai air bersih sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan oleh Mentri Kesehatan Indonesia dan membandingkan dengan kadar yang terbaca oleh alat teknologi yang PDAM miliki. Dari hasil yang didapat, perbandingan antara hasil uji lab dengan yang terbaca pada alat sangatlah tipis berkisar 1-2 %, jadi tidak terlalu berpengaruh hasil apa yang akan diambil nantinya dalam penetuan kadar air yang dihasilkan. Pengujian kandungan kadar air ini dilakukan setiap hari selama 24 jam, pengecekan dilakukan pada tiap jamnya. Setelah pengujian dilakukan dan mendapatkan kadar air yang sesuai yang diinginkan baru PDAM  akan mendistribusikan melalui sistim pemipaan ke jaringan pipa kota.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar